Senin, 19 Maret 2012

unsur intrinsik drama menurut para ahli


Unsur Intrinsik Drama
Unsur-unsur intrinsik adalah unsur-unsur pembangun karya sastra yang dapat ditemukan di dalam teks karya sastra itu sendiri. Adapun unsur-unsur intrisik drama yaitu.
1)      Tema   
Tema cerita adalah pokok pikiran dalam sebuah karangan. Atau, dapat diartikan pula sebagai dasar cerita yang ingin disampaikan oleh penulisnya (Lutters, 2006:41).
Tema drama harus disesuaikan dengan penonton. Jika drama ditujukan kepada pelajar, maka tema ceritanya juga harus sarat dengan pendidikan. Jangan sampai tema yang disajikan justru menjerumuskan pelajar sebagai penonton pada hal-hal yang tidak edukatif.
2)      Alur Cerita (Plot)
Plot atau alur adalah pola dasar dari kejadian-kejadian yang membangun aksi yang penting dalam sebuah drama. Plot drama harus dibangun mulai dari awal, lalu terdapat kemajuan-kemajuan, dan penyelesaian masalah yang diberikan kepada penonton. Plot menjelaskan bagaimana sebuah kejadian memengaruhi kejadian yang lain dan mengapa orang-orang yang ada di dalamnya berlaku seperti itu (Suban, 2009: 79).
Somad dkk. (2008:149) menjabarkan alur menjadi beberapa bagian berikut.
a)        Eksposisi/ introduksi merupakan pergerakan terhadap konflik melalui dialog-dialog pelaku.
b)        Intrik merupakan persentuhan konflik atau keadaan mulai tegang.
c)        Klimaks merupakan pergumulan konflik atau ketegangan yang telah mencapai puncaknya dalam cerita.
d)         Antiklimaks merupakan konflik mulai menurun atau masalah dapat diselesaikan.
e)        Konklusi merupakan akhir peristiwa atau penentuan terhadap nasib pelaku utama.
3)      Latar Cerita (Setting)
Lutters (2006: 56) menjelaskan bahwa setting cerita adalah lokasi tempat cerita ini ingin ditempatkan atau diwadahi. Setting dibagi menjadi dua, yaitu media/ tempat dan budaya.
4)      Penokohan
Penokohan/ karakter pelaku utama adalah pelukisan karakter/ kepribadian pelaku utama. Lutters (2006: 81) membagi tokoh/ peran menurut sifatnya dalam tiga hal berikut.
a)        Peran Protagonis
Peran protagonis adalah peran yang harus mewakili hal-hal positif dalam kebutuhan cerita. Peran ini biasanya cenderung menjadi tokoh yang disakiti, baik, dan menderita sehingga akan menimbulkan simpati bagi penontonnya. Peran protagonis ini biasanya menjadi tokoh sentral, yaitu tokoh yang menentukan gerak adegan.


b)        Peran Antagonis
Peran antagonis adalah kebalikan dari peran protagonis. Peran ini adalah peran yang harus mewakili hal-hal negatif dalam kebutuhan cerita. Peran ini biasanya cenderung menjadi tokoh yang menyakiti tokoh protagonis. Dia adalah tokoh yang jahat sehingga akan menimbulkan rasa benci atau antipasti penonton.
c)      Peran Tritagonis
Peran tritagonis adalah peran pendamping, baik untuk peran protagonis maupun antagonis. Peran ini bisa menjadi pendukung atau penentang tokoh sentral, tetapi juga bisa menjadi penengah atau perantara tokoh sentral. Posisinya menjadi pembela tokoh yang didampinginya. Peran ini termasuk peran pembantu utama.
Suban (2009:68) membagi karakter menjadi tiga bagian menurut kedudukannya dalam cerita.
·       Karakter Utama (Main Character)
Karakter utama adalah karakter yang mengambil perhatian terbanyak dari pemirsa dan menjadi pusat perhatian pemirsa. Karakter ini juga paling banyak aksinya dalam cerita.
·      Karakter Pendukung (Secondary Character)
Karakter pendukung adalah orang-orang yang menciptakan situasi dan yang memancing konflik untuk karakter utama. Kadang-kangan karakter pendukung bisa memainkan peranan yang membantu karakter utama. Misalnya sebagai orang keparcayaan karakter utama.
·        Karakter Figuran (Incedental Character)
Karakter ini duperlukan untuk mengisi dan melengkapi sebuah cerita. Mereka serin disebut figuran, karena yang dibutuhkan figuran saja. Mereka sering tampil tanpa dialog. Kalaupun ada, dialognya hanya bersifat informatif. Biasanya mereka digunakan dalam adegan- adegan kolosal dan keramaian. Atau jika tidak kolosal, biasanya mereka memegang profesi di dalam pelayanan umum, misalnya sopir taksi, pembantu, atau petugas di pom bensin.
5)        Amanat
Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan penulis cerita kepada penonton atau penikmat drama. Jika drama ditujukan kepada pelajar, maka seiring dengan temanya, drama harus memberikan amanat yang bersifat edukatif. Selain itu, cerita dalam drama harus dapat menambah pengetahuan yang positif bagi siswa.
6)   Tokoh
Menurut Wiyanto (2002:29) yang dimaksud dengan tokoh adalah individu ciptaan/rekaan pengarang yang mengalami peristiwa-peristiwa atau lakukan dalam berbagai peristiwa cerita. Pada umumnya tokoh berwujud manusia, dapat pula berwujud binatang atau benda yang diinsankan.Berdasarkan fungsi tokoh dalam cerita, tokoh dapat dibedakan menjadi dua yaitu tokoh sentral dan tokoh bawahan.
a)         Tokoh sentral adalah tokoh yang banyak mengalami peristiwa dalam cerita. Tokoh sentral dibedakan menjadi dua, yaitu
·        Tokoh sentral protagonis. Tokoh sentral protagonis adalah tokoh yang membawakan perwatakan positif atau menyampaikan nilai-nilai pisitif.
·        Tokoh sentral antagonis. Tokoh sentral antagonis adalah tokoh yang membawakan perwatakan yang bertentangan dengan protagonis atau menyampaikan nilai-nilai negatif.
b)      Tokoh bawahan adalah tokoh-tokoh yang mendukung atau membantu tokoh sentral. Tokoh bawahan dibedakan menjadi tiga, yaitu
·        Tokoh andalan. Tokoh andalan adalah tokoh bawahan yang menjadi kepercataan tokoh sentral (protagonis atau antagonis).
·        Tokoh tambahan. Tokoh tambahan adalah tokoh yang sedikit sekali memegang peran dalam peristiwa cerita.
·        Tokoh lataran. Tokoh lataran adalah tokoh yang menjadi bagian atau berfungsi sebagai latar cerita saja.
c)      Berdasarkan cara menampikan perwatakannya, tokoh dalam cerita dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
·        Tokoh datar/sederhana/pipih. Yaitu tokoh yang diungkapkan atau disoroti dari satu segi watak saja. Tokoh ini bersifat statis, wataknya sedikit sekali berubah, atau bahkan tidak berubah sama sekali (misalnya tokoh kartun, kancil, film animasi).
·        Tokoh bulat/komplek/bundar. Yaitu tokoh yang seluruh segi wataknya diungkapkan. Tokoh ini sangat dinamis, banyak mengalami perubahan watak.
7)        Sudut pandang
Sudut pandang adalah tempat dimana seorang pengarang melihat sesuatu. Sudut pandang ini tidak diartikan sebagai penglihatan atas suatu barang dari atas atau dari bawah, tetapi bagaimana kita melihat barang itu dengan mengambil suatu posisi tertentu.
a)      Sudut pandang orang pertama, sudut pandang ini biasanya menggunakan kata ganti aku atau saya. Dalam hal ini pengarang seakan-akan terlibat dalam cerita dan bertindak sebagai tokoh cerita.
b)      Sudut pandang orang ketiga, sudut pandang ini biasanya menggunakan kata ganti orang ketiga seperti dia, ia atau nama orang yang dijadikan sebagai titik berat cerita.
c)      Sudut pandang pengamat serba tahu, Dalam hal ini pengarang bertindak seolah-olah mengetahui segala peristiwa yang dialami tokoh dan tingkah laku tokoh (Wiyanto, 2002:29).
   

jenis-jenis drama menurut para ahli


 Jenis-jenis Drama
a. Drama menurut masanya dapat dibedakan dalam dua jenis, yaitu
1)      Drama Baru/Drama Modern
Drama baru adalah drama yang memiliki tujuan memberikan pendidikan kepada masyarakat yang umumnya bertema kehidupan manusia sehari-hari. Contoh drama baru/modern adalah sinetron, opera, dan film (Wiyanto, 2002:11-12).
2)      Drama Lama/Drama Klasik
Drama lama adalah drama khayalan yang umumnya menceritakan tentang kesaktian, kehidupan istana atau kerajaan, kehidupan dewa-dewi, kejadian luar biasa, dan sebagainya (Wiyanto, 2002:11-12).
b.  Drama menurut   kandungan isi ceritanya, yaitu:
1)      Tragedi
Drama tragedi adalah sejenis drama yang berakhir dengan kesedihan, biasanya setidak-tidaknya terjadi suatu kematian memiliki sifat kepahlawanan dan keberanian. Peristiwa yang ditampilkan adalah peristiwa yang jujur dan murni. Suesuatu yang terjadi haruslah terjadi tidak boleh dibelokkan pada kebetulan yang menyenangkan. Kasihan dan rasa takut merupakan emosi-emosi dasar yang tertumpah terhadap pelaku utama. Kegagalan dalam memperjuangkan kebenaran menimbulkan rasa kasihan dan sekalihus rasa setia kawan. Di dalam tragedi besar, umumnya digambarkan pemuda yang gagah perkasa mempertaruhkan diri menentang segala rintangan dan kezaliman namun ia tidak mempunyai kekuatan yang seimbang, sehingga ia menemui kegagalan, dan bahkan kematian (Wiyanto, 2002:7-9).
2)      Komedi
Drama komedi adalah sejenis drama yang berfungsi menyenangkan hati atau memancing suasana gembira dalam bentuk tersenyum kecil sampai terbahak-bahak. Komedi muncul karena adanya kesadaran mengenal sesuatu yang kita anggap normal, pantas, dan sopan yang kemudian secara intelegensia kita bandingkan dengan apa yang terjadi di atas panggung. Bila yang terjadi menyimpang dari apa yang kita kenal maka muncullah rasa lucu tersebut. Oleh karena itu lebih mementingkan situasi daripada dialogapik dan berlian (Wiyanto, 2002:7-9).
3)      Tragedikomedi
Drama tragedi komedi adalah drama yang umumnya mengetengahkan suatu unsur kegembiraan dan kelucuan di bagian awal kemudian disusul oleh peristiwa-peristiwa tragis. Dengan begitu berkecenderungan untuk memperlihatkan hal-hal yang bersifat duniawi yang membaurkan segi suka dan duka itu, atau suka dan duka itu datangnya silih berganti, di dalam kehidupan sesutau kita memperoleh sesuatu yang lain.
Dari segi alurnya, tragikomedi ini mempunyai dua kemungkinan alur, yakni alur yang berakhir sedih dan yang berakhir gembira. Alur yang berakhir gembira diawali dengan kesedihan dan alur yang berakhir sedih diawali dengan kegembiraan, hambatan, dan kesusahan (Wiyanto, 2002:7-9).
4)      Melodrama
Melodrama merupakan jenis drama komedi. Tetapi nilainya lebih rendah, bahkan sukar untuk dikatakan sebagai drama yang baik, disebabkan mengekploitasi emosi penonton yang kurang kritis dengan menyuguhi adegan horor, memancing perasaan belas kasihan secara berlebihan, dan tidak memeperlihatkan hubungan logis antara sebab akibat. Oleh sebab itu, melodrama tidak pernah akan berhasil bila ia tidak berlandaskan tujuan-tujuan yang baik (Wiyanto, 2002:7-9).
5)      Lelucon/Dagelan
Lelucon adalah drama berpola komedi. Gelak tawa dimunculkan lewat kata dan perbuatan. Yang ditonjolkan dalam drama ini adalah kelucuan yang mengundang gelak tawa agar penonton merasa senang (Wiyanto, 2002:7-9).
6)      Opera
Opera adalah drama yang dialognya dinyanyikan dengan diiringi musik. Lagu yang dinyanyikan pemain satu berbeda dengan lagu yang dinyanyikan pemain lain. Demikian pula irama musik pengiringnya. Drama jenis ini memang mengutamakan nyanyian dan musik, sedangkan lakonnya hanya sebagai sarana. Opera yang pendek namanya operet (Wiyanto, 2002:7-9).
7)      Tablo
Tablo adalah jenis drama yang mengutamakan gerak. Para pemainnya tidak mengucapkan dialog, tetapi hanya melakukan gerakan-gerakan. Jalan cerita dapat diketahui lewat gerakan-gerakan itu. Bunyi-bunyian pengiring (bukan musik) untuk memperkuat kesan gerakan-gerakan yang dilakukan pemain. Jadi, yang ditonjolkan dalam drama jenis ini kekuatan akting para pemainnya (Wiyanto, 2002:7-9).  
8)      Sendrtari
Sendratari adalah gabungan antara seni drama dan seni tari. Para pemain adalah penari-penari berbakat. Rangkaian ceritanya diwujudkan dalam bentuk tari (Wiyanto, 2002:7-9).

pengertian drama menurut para ahli

Pengertian Drama
Drama berarti perbuatan, tindakan. Berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang berarti berbuat, berlaku, bertindak dan sebagainya. Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak. Konflik dari sifat manusia merupakan sumber pokok drama (Wiyanto, 2002:1-2).
Menurut Kintoko (2008:104, Ardiyansyah) drama adalah proses pemeranan diri kita menjadi seseorang yang harus diperankan di dalam pementasan. Drama adalah kehidupan sehari hari yang di pentaskan dengan sistematis dan menarik.
Menurut Zaidan (1994: 60) drama adalah ragam sastra dalam bentuk dialog yang dimaksudkan untuk dipertunjukkan di atas pentas.
 Drama bisa diwujudkan dengan berbagai media: di atas panggung, film, dan atau televisi. Drama juga terkadang dikombinasikan dengan musik dan tarian, sebagaimana sebuah opera (Wiyanto, 2002:1-2).
Menurut Aeschylus (2008: 26, Karsito) drama berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang berarti berbuat, berlaku, bertindak dan sebagainya. Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak. Drama juga berarti risalah, kejadian, atau karangan.

Sabtu, 10 Maret 2012

Sakurairo Maukoro (Mayumi Itsuwa) versi kanji


作詞: 川江美奈子 作曲: 川江美奈子
桜色舞うころ, 私はひとり

押さえきれぬ胸に 立ち尽くしてた

若葉色 萌ゆれば 想いあふれて

すべてを見失い あなたへ流れた

めぐる木々たちだけが

ふたりを見ていたの

ひとどころにはとどまれないと

そっとおしえながら

枯葉色 染めてく あなたのとなり

移るいゆく日々が 愛へと変るの

どうか木々たちだけは

この想いを守って

もう一度だけふたりの上で

そっと葉を揺らして

やがて季節はふたりを

どこへ運んでゆくの

ただひとつだけ 確かな今を

そっと抱きしめていた

雪化粧 まどえは 想いはぐれて

足跡も消してく 音無きいたずら

どうか木々たちだけは

この想いを守って

「永遠」の中ふたりとどめて

ここに 生き続けて

めぐる木々たちだけが

ふたりを見ていたの

ひとどころにはとどまれないと

そっとおしえながら

桜色舞うころ, 私はひとり

あなたへの想いを かみしめたまま

Sakurairo Maukoro (Mayumi Itsuwa) versi latin


Sakurairo maukoro, watashi wa hitori

Osae kirenu mune ni tachi tsuku shiteta

Wakabairo moyureba omoi afurete

Subete wo miushinai anata he nagareta

Meguru kigi tachi dakega

Futari wo miteita no

Hito dokoro ni wa todomare nai to

Sotto oshie nagara

Karehairo someteku anata no tonari

Utsurui yuku hibi ga ai he to kawaru no

Douka kigi tachi dake wa

Kono omoi wo mamotte

Mou ichido dake futari no uede

Sotto ha wo yurashite

Yagate toki wa futari wo

Doko he yakonde yuku no

Tada hitotsu dake tashikana ima wo

Sotto dakishimeteita

Yuki keshou madoe wa omoi hagurete

Ashiato mo keshiteku otonaki itazura

Douka kigi tachi dake wa

Kono omoi wo mamotte

“Eien” no naka futari todomete

Koko ni iki tsudukete

Meguru kigi tachi dakega

Futari wo miteita no

Hito dokoro ni wa todomare nai to

Sotto oshie nagara

Sakurairo maukoro, watashi wa hitori

Anata he no omoi wo kamishimeta mama

Senin, 05 Maret 2012


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Satuan Pendidikan      : SMA 
Mata Pelajaran            : Bahasa dan Sastra Indonesia
Kelas/ Semester           : XI IPS/ 2
Alokasi Waktu            : 4x45 menit

Standar Kompetensi :
16. Menulis naskah  drama
Kompetensi dasar:
16.1Mendeskripsikan perilaku manusia melalui dialog naskah drama
Indikator:
· Menulis teks drama dengan menggunakan bahasa yang sesuai untuk:
· Mendeskripsikan perilaku manusia melalui dialog
· Menghidupkan konflik
· Memunculkan penampilan (performance)

1. Tujuan pembelajaran
Siswa mampu menulis naskah drama dengan bahasa sesuai untuk mendeskripsikan perilaku manusia melalui
2. Materi Ajar
Teks drama
Unsur-unsur intrinsik drama (tema, penokohan, dan konflik).
3. Model : Konsturuktivisme.
Strategi : ceramah, diskusi, dan inkuiri.
Pendekatan : Kelompok, dan individual.
4. KKM : 7,5.
5. Langkah-langkah Pembelajaran
I. Pendahuluan
Apersepsi
• Guru memberi salam, dan berdoa sebelum belajar.
• Guru mengabsen.
• Guru mempersilahkan peserta didik untuk mempersiapkan diri dalam pembelajaran.
Motivasi
• Guru menjelaskan kompetensi dasar yang harus dicapai.
• Guru memberikan pendahuluan tentang drama.
II. Inti
Eksplorasi 
• Guru memberikan pertanyaan pancingan yang terkait dengan drama.
• Peserta didik distimulus berupa pemberian materi drama, dan unsur-unsur struktur
drama.
Elaborasi 
• Peserta didik menyimak penjelasan guru tentang materi drama, unsur-unsur intrinsik drama, dan penggunaan media gambar berseri sebagai alat bantu dalam menulis naskah drama.
• Peserta didik menulis sebuah naskah drama dengan bahasa yang sesuai untuk:
o   mendeskripsikan perilaku manusia melalui dialog,
o   menghidupkan konflik,
o   memunculkan penampilan (performance), dan
o   sesuai dengan media gambar.
Konfirmasi
• Menjelasan tentang materi drama, unsur-unsur intrinsik drama, dan penggunaan media gambar berseri sebagai alat bantu dalam menulis naskah drama.
III. Penutup 
Penguatan keterampilan berupa refleksi.
Guru memberi salam.
6. Alat/ Bahan/ Sumber Belajar
• Alat: 
• Bahan: buku penunjang yang terkait dengan materi, Aktif dan Kreatif Berbahasa Indonesia untuk kelas XI SMA/ MA Program IPA dan IPS karangan Adi Abdul Somad, dkk., dan Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia kelas XI Program Bahasa karangan Nunung Yuli Eti, dkk.
• Sumber: http://mbahbrata.wordpress.com/2008/09/25/naskah-drama-jaka-kendhil
mencari-cinta/ 
• Drama: Teori dan Pengajarannya karangan Herman J. Waluyo.
7. Prosedur Penilaian
• Teknik: tes tulis
• Bentuk: tes uraian
• Soal:
Buatlah sebuah naskah drama bahasa yang sesuai dengan gambar!

 
• Materi pembelajaran:
  • Pengertian drama.
Kata “drama” berasal dari bahasa Yunani draomai yang berarti berbuat, berlaku, bertindak, beraksi, dan sebagainya. Drama berarti perbuatan, tindakan atau action (Harymawan, 1988:1).
  • Unsur intrinsik drama (tema, penokohan,dan konflik).
Tema 
Tema cerita adalah pokok pikiran dalam sebuah karangan. Atau, dapat diartikan pula sebagai dasar cerita yang ingin disampaikan oleh penulisnya (Lutters, 2006:41).
Tema drama harus disesuaikan dengan penonton. Jika drama ditujukan kepada pelajar, maka tema ceritanya juga harus sarat dengan pendidikan. Jangan sampai tema yang disajikan justru menjerumuskan pelajar sebagai penonton pada hal-hal yang tidak edukatif.
Penokohan
Penokohan/ karakter pelaku utama adalah pelukisan karakter/ kepribadian pelaku utama. Lutters ( 2006: 81) membagi tokoh/ peran menurut sifatnya dalam tiga hal berikut.
a)      Peran Protagonis
Peran protagonis adalah peran yang harus mewakili hal-hal positif dalam kebutuhan cerita. Peran ini biasanya cenderung menjadi tokoh yang disakiti, baik, dan menderita sehingga akan menimbulkan simpati bagi penontonnya. Peran protagonis ini biasanya menjadi tokoh sentral, yaitu tokoh yang menentukan gerak adegan.
b)      Peran Antagonis
Peran antagonis adalah kebalikan dari peran protagonis. Peran ini adalah peran yang harus mewakili hal-hal negatif dalam kebutuhan cerita. Peran ini biasanya cenderung menjadi tokoh yang menyakiti tokoh protagonis. Dia adalah tokoh yang jahat sehingga akan menimbulkan rasa benci atau antipasti penonton.
c)      Peran Tritagonis
Peran tritagonis adalah peran pendamping, baik untuk peran protagonis maupun antagonis. Peran ini bisa menjadi pendukung atau penentang tokoh sentral, tetapi juga bisa menjadi penengah atau perantara tokoh sentral. Posisinya menjadi pembela tokoh yang didampinginya. Peran ini termasuk peran pembantu utama.
konflik
konflik dalam naskah drama, adalah satu komplikasi yang bergerak pada satu klimaks atau bagian alur yang menggambarkan pertentangan-pertentangan yang dialami tokoh, maupun pertentangan-pertentangan yang terjadi di luar tokoh yang dimaksudkan sebagai penggambaran yang diberikan oleh pengarang agar pembaca menduga-duga perkembangan cerita selanjutnya.